Bebintangan

Foto: google

Dunia adalah ruang hampa yang tiada berbatas, adalah seluas-luasnya tempat, namun tetap meninggalkan sesak sebab tiada mampu menghirup udara lepas. Mataku terbelalak memandang bebintangan di ujung pandangan, tapi aku tahu bahwa hanya satu di antara ratusan itu yang berbinar paling terang. Bagaimana  bisa banyak cinta menghujam diri secara bersamaan, sementara hanya satu yang menusuk dada? Cinta bagai bintang yang diwadahi sinar agar memiliki bentuk, lebih cantik, dan lebih mencolok. Setiap sisi terasa begitu sempurna, walau terdapat kecacatan, adalah sinar yang menutupinya. Tetapi bintang tetaplah bintang, hanya terlihat sehabis petang dan lenyap saat fajar mulai benderang.  Sinar sudah dikhianati berulangkali.

Kami semacam dipertemukan oleh suara takdir yang dengungnya mampu meluluhkan hati terdalam, seolah membinasakan rasa getir paling temaram. Cerita kami seperti bebintangan, mempunyai andil untuk menerangi setiap sudut dunia, tetapi masing-masing tersekat oleh ribuan tahun cahaya yang hampir tiada mampu diukur jaraknya. Kami menikmati setiap celah percintaan ini, sehingga mempercayai bahwa cinta kami terlahir abadi adalah selalu kebiasaan kami. Makna abadi menurut kami bukanlah hanya sebuah lini waktu yang berjalan semestinya, tetapi soal kobaran api yang tetap membara, meski dunia telah melewati masa porak-poranda. Di balik itu, cinta selalu hadir secara misterius, menjengkelkan, dan memesona. Tiada satu pun yang mampu mengalahkan keindahan rasanya.

Aku mengatakannya sebagai anugrah, sering pula menyebutnya sebagai ujian ketika semesta mulai mengaum marah. Sebab kami adalah juga manusia, yang tiada akan pernah luput dari sebuah kesalahan yang memuaskan diri sementara. Andai takdir kami adalah kematian, dan kami dipusarakan di tempat yang terpisah, kami bagai hidup kembali, menjelma sepasang burung merpati yang menaut temu di rerindangan pohon gandaria dan sama-sama bunuh diri saat itu juga. Walaupun memilih mati adalah perbuatan salah, kami tetaplah merapal syukur sebab sayap kami saling bersentuhan, saling menyalur cinta lewat bulu putih suci, saat seluruh jiwa mejauhi raga kami dan serentak keduanya seiringan berlari.

Demikianlah kami saling mencintai, sangat besar melebihi sekadar diri kami sendiri. Musuh kami di dunia ini hanyalah sekelumit jarak yang lebih angkuh dari seekor burung merak jantan yang menjalarkan bulu-bulunya saat betina tengah marak dijumpai. Ia diciptakan hanyalah untuk membuat kami melahirkan dahaga, saat kehadiran kami entah di mana, yang menyebabkan raga kami sama-sama kehausan. Jumpa adalah obatnya, rindu adalah virusnya. Tubuh kami akan merasakan sakit, organ pernapasan kami barangkali terganggu, sistem imun tubuh kami selayaknya didiagnosa cacat. Kami bahagia jika bersama, saling mengisi sela-sela jemari, dan berdansa sepanjang hari di atas penderitaan sang jarak yang gagal menghabisi kami. Jika tiada terlaksana, hanyalah bias yang menggambarkan keabadian cinta kami.


***

Kami adalah manusia bebahagia. Cinta telah menghidupkan diri kami, dan kami telah menumbuhkan cinta tersebut di dalam sukma kami. Tiada sepuntung kecil pun terbesit di kepala kami untuk menamatkan cerita cinta, yang barangkali akan membuat kami celaka. Namun, tiada satu manusia yang mengetahui suratan takdir dikirim melalui apa, berisi apa, dan kapan datangnya. Cinta begitu kami puja, begitu kami agungkan, begitu kami dambakan. Sampai tiba masanya, kami lupa bahwa takdir adalah semacam rahasia, semacam makna dari puisi-pusi sastra, semacam asal muasal bebintangan di langit yang tertata. Kemegahan ruang hampa, tiba-tiba runtuh, membunuh seisi daratan, tiada yang tersisa walaupun separuhnya. Gunung kokoh yang menjulang di hadapan kami, hancur lebur akibat terlalu hikmat didaki.

Kau membelot, kemungkinan itu tiada sempat terpikir olehku semenjak pertama kali memandang bola matamu, yang cokelat, dan memikat. Sesak, dirasakan begitu menyayat seluruh tubuh sampai tiada satu pun dapat mengobatinya. Cerita manis tenggelam sudah, suatu yang kuyakini abadi, kini hanya menyisakan riwayat-riwayat nyeri. Tenyata perjalanan hanyalah sekelumit kebohongan, hanyalah proses berpulang paling menyakitkan. Aku berjalan sambil memegang luka, sementara kau sibuk memerahnya sampai darah burcucuran kemana-mana. Kami menyadari bahwa jarak adalah musuh kuat, hingga mampu mencoreng kesucian cinta yang bermartabat. Keabadian cinta tiada lebih gagah, tiada lebih adikuasa, dan tiada lebih berharga dari setumpuk rerongsokkan yang akan dibuang kemudian.

Kini dihadapanku, seekor merpati dan perkutut merajut cinta kasih. Mereka terbang berdua, tanpa koloni, namun dengan sepucuk perjanjian sehidup-semati. Saat ini aku didustai, tetapi suratan takdir tiada yang mengetahui, mungkin dengan begini, kebahagian yang lalu kelak akan kulampaui. Walau adalah cinta selalu hadir, tentu bukanlah abadi, yang hanyalah merupakan seonggok tabir. Dan saat ini, aku lebih suka memandang ruang hampa di atas langit, menikmati gemerlap bebintangan yang sungguh indahnya abadi. Jika diizinkan, aku akan menjelma sinar, yang sengaja menerangi bebintangan sampai malam tertelan. Aku hanya ingin menikmati, tanpa diingatkan soal cerita pahit, yang membuat rasa percaya kepada cinta hampir mati gantung diri.


Bekasi,
23 September 2018 (Ba'da Subuh)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keluti Sastra, Dilupakan Nusantara