Minimalis

Gambar terkait
Foto: google



Dering weker menyadarkanku soal betapa indahnya berkelana jauh mengarungi rerindangan pohon di hutan Amazon, walau hanya sebatas bunga tidur, tentunya. Saat itu adalah momentum yang sempurna untuk bermalas-malasan sepanjang hari di atas serbet merah bergambarkan beberapa pemain lama Arsenal, club Liga Inggris terfavorit. Arshavin, yang wajahnya terpampang di situ selalu mengingatkanku pada sontekkan empat golnya ke gawang Liverpool. Yah, meskipun Arsenal ditahan imbang ketika itu, tapi tetap saja pemain sepakbola satu ini telah menunjukkan kualitasnya sebagai pemilik visa Rusia.

Ayah sedang menyeduh kopi hitam kesukaannya. Di saat yang bersamaan, harum kuah kaldu opor ayam menyengat hidungku yang lebar. Ibuku ini sangat lihai memasak, tidak ada satu pun masakannya yang tak kusuka. Daging panggang, ayam goreng, mie rebus dengan kuah sedikit supaya kental dan gurih, rendang bertekstur empuk, telur balado yang pedasnya luar biasa, cah kangkung, semur jengkol, udang rica-rica, dan masih banyak lagi makanan bercita rasa surgawi lainnya. Menurut cerita Ayah, kemampuan memasak Ibu ini lah salah satu alasan Ayah melamarnya. Dia juga menyebut, wajah Ibu sangat rupawan sehingga membuatnya tergila-gila.

Oh iya, umurku ketika itu genap 20 tahun, tetapi tak satu pun orang rumah mengucapkannya. Entah sengaja atau tidak, aku sedikit dibuat jengkel karenanya. Tapi aku tidak pernah mempersoalkan itu karena sifatku yang apa adanya dan tidak pernah berekspetasi lebih terhadap apapun. Walaupun begitu, kepalaku ini dipenuhi oleh ribuan mimpi yang belum satu pun terpenuhi, padahal sudah berkepala dua. Ketika lulus kuliah nanti, mimpi sederhanaku adalah bekerja sesuai bidang dan memberi seluruh gaji pertama untuk Ibu. Mudah-mudahan terlaksana. Doakan, ya, pembaca yang manis.

Di kamar terdapat sebuah kaca yang berfungsi untuk meyalurkan hasrat narsisme ini. Menurut Ibu dan beberapa teman dekat, aku memiliki rupa yang lumayan ganteng untuk pria berdomisili Bekasi, tapi menurutku lebih dari itu. Meskipun terlihat kurus dan berjerawat, aku layak dibandingan dengan El Rumi, putra ke dua dari pasangan Ahmad Dhani dan Maia Estianty. Bedanya, dia memiliki modal sehingga bisa membentuk keproporsionalan badannya, sedangkan aku, untuk makan saja harus mengorek sampah atau gorong-gorong. Terlepas dari itu, aku tetap mengagumi diriku.

Oke, ini sudah kelewat batas. Maafkan aku.

Pagi itu aku merasa rambut ini lebih panjang beberapa inci. Rasanya sedikit gatal, tetapi apa daya, aku harus memenuhi nazar suci ketika SMA untuk memanjangkan rambut sampai gondrong. Janji itu harus terlaksana jika lulus seleksi perguruan tinggi negeri. Kebetulan, aku terpilih di suatu program studi pilihan ke dua di salah satu politeknik. Bukan karena sering belajar sampai pintar, tapi menurutku, dewi fortuna selalu bergelantungan di pundak yang sempit ini, sehingga diberi ribuan keberuntungan. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur -- dan sedikit sombong, tentu saja. Saat ini sudah memasuki semester ke 5 dan nazar suci tersebut perlu kupenuhi.


***


Pukul 19.00, orang rumah belum juga memberi kejutan ulang tahun. Bukan berharap, tetapi aku hanya mencari bahan untuk diunduh ke media sosial seperti remaja milenial pada umumnya. Tapi untuk mengurus itu, aku seringkali tidak sempat karena sibuk menanggapi persoalan di dunia nyata. Walaupun begitu, sudah banyak teman dekatku memberi selamat dan harapan melalui pesan singkat. Yah lumayan lah, untuk sekadar memperbaiki suasa hati yang tidak kondusif ini. Namun dari sekian banyak ucapan itu, selalu ada unsur jomlo menyempil di antara himpit ucapan. Aku memang tidak terlalu pandai menyikapi percintaan, tetapi saat sendirilah yang membuatku merasa bahagia.

Kumandang adzan isya mendengung di kedua telingaku. Entah ilham dari mana, aku langsung menunaikan solat karena biasanya, aku selalu menunda-nunda solat isya sebab periodenya yang lama. Saat itu, terpikir olehku betapa berat tumpukkan dosa yang kuperbuat karena sering menunda-nunda solat isya, mengingat dengan umur ini, sudah tidak sepantasnya melakukan hal tersebut. Aku solat, merapal doa, berdzikir, dan membaca beberapa surat di dalam kitab suci Al-Qur'an. Aku merasa sangat soleh saat itu, walau hanya sesaat. Tapi memang soleh, kok.

Seisi rumah tiba-tiba gelap gulita. Aku mengira listrik turun, sehingga buru-buru untuk memeriksa meteran listrik di luar rumah tanpa membuka sarung Wadimor biru yang kukenakan. Sebelum membuka kunci yang tergantung di pintu, setitik cahaya kecil keemasan kulihat membelakangi punggungku. Itu Ibu, Ayah, dan dua adikku! mereka membawakan blackforest minimalis bertabur coklat di seluruh badannya dan keju di atasnya. Lilin berangka '20' pun tak luput terpampang di atas ratusan parutan keju. Tapi anehnya, bukannya membawakan lagu selamat ulang tahun, mereka malah menyanyikan lagu Indonesia Raya. "Dasar keluarga minus," ucapku dengan spontan, tanpa bermaksud melontarkan sara.

Aku bahagia, keluargaku bahagia. Momen ini takkan tergantikan. Sayangnya, ponselku saat itu sedang lemah baterai jadi tidak bisa mendokumentasikannya. Ponsel Ayahku juga, Ibuku juga, pun adikku. Dasar payah!


***


Sebenarnya tulisan ini tidak terlalu penting. Hanya saja, aku tidak mau membuat sebuah blog tanpa merayakannya. Walaupun sekarang sedang duduk di Mcdonald Bulog sendirian sambil minum mcfloat fanta, aku perlu membuat konten. Terima kasih telah membaca!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keluti Sastra, Dilupakan Nusantara