Balada Pemegang Tuas Angkutan Kota

Foto: dokumentasi pribadi


Mengendarai kendaraan roda empat di simpang jalan kota Depok ternyata bukan perkara mudah. Pada jam-jam tertentu, kepadatan bagai menyergap pengendara yang juga menyumbang gas emisi berlebih ke udara. Apalagi, angkutan umum, yang notabene merupakan kendaraan umum sehari-hari masyarakat belum dilengkapi dengan fasilitas pendingin ruangan. Tentu saja hal ini menambah kepenatan.



Setidaknya begitu pengakuan Parno, supir angkutan kota senior yang telah membawa mesin bajanya selama 40 tahun, jika dihitung saat 2018. Keluh kesahnya tertuang di warung kopi daerah Mekarsari, Depok, Jawa Barat. Walaupun hari sedang terik-teriknya dan menenggak air dingin dirasa cukup logis untuk melepas dahaga, Parno lebih memilih menyeruput kopi hitam dengan rokok keretek di sela jemari tangan kanan. Ditemani oleh kawannya, Aki, bertukar cerita seputar pekerjaan mereka.

Aki seorang supir angkot pula. Di hadapannya, sambil duduk sila, Parno mengatakan kalau dirinya hanya bisa narik saat siang hari, dimulai dari pukul 12, hingga menjelang maghrib pukul 6. Masalahnya, jatah yang diberikan Haji Bambang --sang juragan angkot-- kepadanya dimulai dari pagi, pukul 5 hingga pukul 11 malam. Jika Parno hanya bisa mencari penumpang dari siang sampai sore, tentu saja rugi.

Didasari oleh persoalan itu, Parno mensiasatinya dengan menyuruh orang yang bisa mencari penumpang di jadwalnya. Rudi, kata Parno, pernah mendapat kesempatan itu dengan syarat setoran harus diberikan kepadanya sebanyak 50% dari hasil narik. Namun, Rudi kala itu menghianati kepercayaannya karena selalu sulit dihubungi ketika tenggat waktu sudah datang. Semenjak itu, Parno selalu mencari-cari orang, namun akhirnya tidak jadi karena tak ada yang bisa dia percaya.

Parno memberi bagian ke Haji Bambang 60 ribu perhari. Jika per dua hari, ia hanya harus menyetor 100 ribu di luar biaya akomodasi, seperti bensin. Namun, Haji bambang pernah mengatakan bahwa menyuruh orang mencari penumpang pada jadwal yang ditentukan adalah pelanggaran. Ada sanksinya. Karena itu, Parno selalu mengumpat-umpat.

Aki tetap mendengarkan, ia pun mulai memesan kopi susu panas. Aki juga pernah melakukan hal sama seperti Parno dan mendapat nasib yang sama pula. Memberi kepercayaan, menunggu, dan dikhianati. Aki tetap santai, sambil menghisap kuat batang filter berukuran lumayan besar. Namun ia kebanyakan diam, memainkan cangkir, serta memutar-mutar batang rokok.



Tak lama seseorang datang dari sudut kiri warung. Saat datang, ia langsung memberi salam pertemanan. "Hiya, hiya, hiya, tos!" seperti itu kiranya mereka heboh sendiri, Parno hanya diam. Ini lah teman Aki, karena memiliki paras Batak, ia disebut Ucok, juga supir angkot. Lalu tak lama berselang, wajahnya pucat, matanya pun berbinar.

"Dipecat nih, ampun dah," dengan logat Medan. Aki mendengarkan. Kata Ucok, setoran yang dia beri hanya kurang 10 ribu dari yang ditentukan. Namun, tak ada ampun, ia diputihkan begitu saja. Tapi kata Aki, hal itu memang sudah ketentuannya, harusnya Ucok bisa lebih giat lagi mencari penumpang. Tapi Ucok tak bisa menerimanya, ia sedih, tapi sambil menghisap keretek yang disodorkan Parno.

Mereka berbincang hangat. Bertiga, tanpa mempedulikan lingkungan sekitar. Tanpa jaim, tanpa baper, terbuka apa adanya, tercermin dari perbincangannya. Inilah persahabatan sejati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keluti Sastra, Dilupakan Nusantara