Keluti Sastra, Dilupakan Nusantara

Foto: google


Sambil berbaring, hanya gerakkan mata yang mampu ia lakukan. Dengan alasan kesehatan dan proses penyembuhan, dokter mengambil langkah operasi pada jantungnya. Sejak saat itu, kawannya sehari-hari adalah tabung oksigen yang harus selalu diganti setiap dua hari. Santapannya pun khusus, yakni Proten; sebuah penyuplai gizi seharga 200 ribuan.

Kepenulisan adalah bidang yang membuat namanya mencuat. Adalah Hamsad Rangkuti, seorang sastrawan kebanggaan Tanah Air kelahiran Medan, 7 Mei 1943. Ia telah mempersembahkan banyak karya untuk mengatasi dahaga para pecinta sastra. Salah satu yang paling terkenal adalah novel bertajuk “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku Dengan Bibirmu” dan kumpulan cerpen “Bibir dalam Pispot”.

Beberapa penghargaan telah diraihnya, seperti Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (1981) lewat novel 'Ketika Lampu Berwarna Merah'. Selain itu, pengakuan dalam bentuk Southeast Asian Writers Award (2008) dan Khatulistiwa Literary Award (2003) juga didapatnya. Hamsad pun pernah menduduki bangku pemimpin redaksi majalah sastra populer, yakni Horison. 

Rangkaian pencapaian itu tak lepas dari pengabdiannya terhadap dunia sastra yang dinilai tulus. Kepada sastra Indonesia, Hamsad jatuh cinta. Ia menggeluti salah satu dunia seni bahasa ini dengan total, seolah tanpa mengharapkan balasan apa pun. Ia hanya menulis, menggerakan tangan, dan mulai menggoreskan pena di sebuah kertas kosong.

Namun naas, di sisa umurnya, sastrawan ini semakin hilang pamor di masyarakat. Walaupun sudah menghasilkan banyak karya, Hamsad bagai sirna tertelan bumi seiring dengan semakin tergerusnya nilai kebudayaan di mata khalayak. Bahkan, sampai akhir hayat, tidak ada perhatian apa pun dari pemerintah terhadapnya yang kala itu sedang mengalami masalah perekonomian dan masalah kesehatan.

Hanya beberapa kerabat penulis, pegiat seni, dan komunitas sastra yang tergugah kepeduliannya untuk membantu Hamsad. Komunitas di antaranya adalah Sajak Liar, Antologia Jakarta, dan Wadah Karya Sastra (Wakarsas) Indonesia.

Risita Nindya Indriani, salah satu anggota dari komunitas Wakarsas Indonesia pernah melakukan penggalangan dana untuk Hamsad dan menjenguk di kediamannya. Ia bersama dengan rekan-rekan satu komunitasnya mendatangi Hamsad yang kala itu terbaring sakit, lalu menunjukkan rasa empati di hadapan keluarga penulis senior tersebut.

Pada keterangannya, Rislita menuturkan bahwa saat ia ingin mengunjungi rumah Hamsad, kebanyakan tetangga tidak tahu ada sastrawan yang tinggal di daerah itu. Bahkan, jarang tetangga yang mengenali sosoknya, di samping profesinya sebagai penulis. "Saya dan teman hampir pasrah di ujung gang karena aku dan teman tidak sampai-sampai lokasi dengan benar,” tulis Rislita dalam blog pribadinya, ruangnyalita.wordpress.com.

Hamsad dan keluarga besar tinggal di sebuah rumah petak di bilangan Tanah Baru, Depok, Jawa Barat. Seperti yang dilansir detikhot.com, rumah tersebut sebelumnya adalah tanah kebun. Ada beberapa pohon jati yang ditanam Hamsad atas pemberian hadiah bibit dari Menteri Kehutanan Kabinet Indonesia Bersatu, M.S. Kaban kala itu. Di sini lah Hamsad mengalami jatuh sakit.

Dilansir oleh liputan6.com, sejak pertengahan 2017 lalu, Hamsad terbaring lemah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok, Jawa Barat. Kala itu, Hamsad sama sekali tidak bisa menggerakan tubuhnya. Ia didiagnosa mengalami penyakit struk. Padahal, pada 2012, Hamsad pernah operasi jantung dan harus membuat pembuangan air kecil di tubuhnya. Akibat dari berbagai operasi tersebut, Hamsad harus memakai tabung oksigen dan menggantinya setiap dua hari. Proten, yang satu kardusnya senilai 200 ribuan menjadi santapan sehari-harinya.

Hamsad Rangkuti mengembuskan nafas terakhirnya pada Minggu, 26 Agustus 2018 pukul 6 pagi. Walau telah tiada, karya-karyanya tertuang dalam semesta aksara, yang senantiasa abadi mengikuti poros waktu dunia

Komentar

  1. artikel ini mengingatkan kita bahwa pejuang2 sastra di Indonesia banyak sekali yang telah memberikan sebuah karya tetapi cepat dilupakan. terimakasih untuk artikelnya.

    BalasHapus
  2. Tulisan yang mengingatkan lagi para sastrawan lainnya. menarik dan keren, good.

    BalasHapus
  3. tulisan yang inspiratif dan mengingatkan kita pada karya sastra Indonesia.
    Jangan lupa kunjungi blog https://haryonet.blogspot.com/ untuk mendapatkan berita dan informasi tentang multimedia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih penilaiannya. Mohon bayar pakai bitcoin atas promosinya.

      Hapus
  4. Keren artikelnya sangat inspiratif

    BalasHapus
  5. Artikel ini benar2 menginspirasi, mengingatkan kembali terhadap sastrawan dan karyanya yang inspiratif.
    Keren👌

    BalasHapus
  6. Miris, seorang tokoh yang berpengaruh dalam kebudayaan Indonesia malah seperti tidak diperhatikan. Semoga pemerintah dapat turun tangan mengatasi persoalan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, pemerintah seharusnya mengambil sikap dari masalah ini. Terima kasih komentarnya

      Hapus
  7. Artikel ini menyadarkan saya bahwa kita harus terus mendukung sastrawan dan karya-karyanya, keren!

    BalasHapus
  8. Inspiratif sekali, mengingat kan tentang para sastrawan dan karya nya yang mulai tidak dikenal oleh byk orang

    BalasHapus
  9. MasyaAllah keren euy, menginsprasi 👍

    BalasHapus
  10. Tulisan ini Sangat menginspiratif Dan mengingatkan Kita akan pencipta sastra sastra lainnya yg terlupakan , seharusnya anak anak jaman Sekarang dihimbau untuk mengenal sastra, menghargai sastra Maapun penciptanya, daripada selesai main game main handphone atau Nonton sinetron yg gak mendidik Semoga tulisan selanjutnya lebih baik , Semangat teruuuus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap karynya memang patut diapresiasi karen mampu mensejajarkan tatanan lewat propaganda pada tulisan. Terima kasih tanggapannya

      Hapus
  11. inspiratif sekali kaka rifqi

    BalasHapus
  12. Indeed, mayoritas orang seni yg udah menuangkan karyanya banyak yg terlupakan tapi kumpulan aksaranya akan selalu terbang.

    terimakasih sudah mengingatkan dan menginspirasi😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali! Jangan lelah mengingatkan orang-orang di sekitar kita untuk menghargai para pegiat seni, ya

      Hapus
  13. Terima kasih sudah menginspirasi👍

    BalasHapus
  14. really agree to this post! thankyou for inspiring us!

    BalasHapus
  15. sangat menginspiratif tulisannya. Lanjutkeun!

    BalasHapus
  16. setuju nih, menginspirasi bgt!👍

    BalasHapus
  17. Kerenn, sangat menginspirasiii

    BalasHapus
  18. Astagfirullah, semakin banyak ya seniman yang terlantar. Sedih

    BalasHapus
  19. Ntapppp dahhhh 👍👌

    BalasHapus
  20. Sebuah pengingat untuk lebih mengapresiasi pegiat seni dan karyanya, khususnya sastra. Lanjutkan, Qi!

    BalasHapus
  21. Tulisan yang sangat menginspirasi dan mengajarkan bahwa sekecil apapun karya para pekerja seni harus di apresiasi setinggi tingginya, kereeen 👍🏻

    BalasHapus
  22. Nice....do"a sll untukmu



    BalasHapus
  23. keren banget sih orangnya :)

    BalasHapus
  24. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  25. Sangat memotivasi

    BalasHapus
  26. Prihatin membacanya, tp artikel ini cukup menjadi salah satu informasi menarik ttg para pejuang sastra indonesia yg tidak banyak diketahui oleh temen2 milenial saat ini, termasuk saya. Terima kasih informasinya. Semoga bermanfaat dan menggugah semangat2 temen milenial termasuk saya, untuk lebih tahu dan kenal lagi ttg sastrawan2 indonesia beserta dg karya2nya.

    BalasHapus
  27. Prihatin membacanya, tp artikel ini cukup menjadi salah satu informasi menarik ttg para pejuang sastra indonesia yg tidak banyak diketahui oleh temen2 milenial saat ini, termasuk saya. Terima kasih informasinya. Semoga bermanfaat dan menggugah semangat2 temen milenial termasuk saya, untuk lebih tahu dan kenal lagi ttg sastrawan2 indonesia beserta dg karya2nya.

    BalasHapus

Posting Komentar