Teruntuk: Pria itu

Seluruh rasa hormat yang bertumbuh kembang dalam diri ini sirna. Pria itu, yang seharusnya menjadi anutan kami telah gagal menunjukkan citra sebagai seorang kepala rumah tangga. Satu hal yang tersisa hanyalah keangkuhan. Karena jabatan, terkuras abis isak air mata ibu olehnya. Semenjak hari itu, benih kebencian berkembang biak di dalam benakku, membekukan hatiku sedikit demi sedikit sampai tersedimen penuh untuk seorang pecundang seperti dia.

Tanganku seringkali mengepal, tak kuasa menunggu waktu yang tepat untuk melayangkannya ke wajah, dada, dan seluruh tubuhnya. Tetapi ketika hendak melakukannya, niatku selalu terurung. Aku tidak ingin menjadi dia, tak sudi mencerminkan dirinya dalam tindakanku. Aku lagi-lagi mengelak, lagi-lagi menahan gejolak untuk menyeruakkan kebencian. Tampias air mata ibu, akan terbalas suatu saat nanti dengan deras air matanya.

Sampai pada suatu hari, aku menyakiti seorang wanita yang kucintai. Dia menangis begitu dalam bagai sedang memusarakan jiwanya di tanah paling kerontang. Kubuat hatinya hancur lebur, aku melakukan perbuatan yang kesalahannya tidak terukur. Saat itulah, orang pertama yang kukambing hitamkan adalah pria itu. Aku menyesal, mengapa ibu membuahi sel sperma darinya hingga di dalam diriku tertanam seonggok sifat yang tidak lebih baik daripada sampah.

Ibu selalu mengingatkanku perihal pria itu. Katanya, semua orang tidak luput dari kesalahan, tidak lepas dari kekeliruan. Tapi hatiku begitu bertolak belakang, setiap kata yang keluar dari mulut ibu bagai kebohongan yang siapapun tidak akan mampu menerimanya. Jiwaku telah menampung kebencian yang suatu saat akan meledak, menerjang seisi kehidupannya yang akan diselimuti kabut abu-abu.

***

Suara mesin mobil dari depan pagar rumah, bagai suara pengantar derita yang semakin lama kian dekat. Keluar dari mobil, dia berjalan begitu angkuh, begitu menonjolkan karisma yang auranya tampak hitam legam. Sambil berjalan, tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Sangat angkuh, sungguh sangat angkuh. Aku tak habis pikir, mengapa ibu bisa sangat mencintai pria itu, bahkan walau telah disakiti berulang kali, ibu selalu tetap berteguh hati.

Hari telah tenggelam matahari, petang juga sudah terlewati. Pria itu terlihat terburu-buru memasuki kamarnya bersamaan dengan ibu. Seperti sebelum-sebelumnya, mereka meributkan suatu hal yang tak pernah kuketahui. Aku menduga kalau pria itu menyakiti ibu lagi. Ingin rasanya mendobrak pintu dan mendapati pria itu dengan terjanganku. Namun, kembali lagi, aku tak ingin seperti dia.

Aku persis di samping kamar itu, sedang membaca salah satu buku karya Jostein Gaarder. Samar-samar, perseteruan ibu dengan pria itu kudengar mereda. Namun, ada satu hal yang mereka bicarakan. Hal yang tak pernah kuduga sebelumnya akan menjadi topik pembicaraan mereka.

“Aku harus jual mobilnya,” ucap pria itu.
“Tidak, bagaimana denganmu, apa tidak ada jalan ke luar lain?”
“Tak apa, aku bisa jalan kaki.”
“Apa kamu sadar? Kamu sudah dipecat dan sekarang kita tidak punya tabungan. Rumah juga belum lunas.”
“Tak apa, Bu, rezeki bisa dicari.”
“Kalau biaya kuliah ibu bisa pinjam, tak perlu lah menjual mobil.”
“Tidak bu. Bagaimana kalau nanti tidak bisa bayar? Sudahlah, tak apa. Dia yang terpenting, dia akan jadi orang hebat, akan jadi penulis paling dikenal. Kamu tenang saja.”

**

Aku kehilangan diriku. Suara itu terucap, seiringan dengan runtuhnya seluruh kebencian lewat setiap tetes air mata. Aku tidak menyangka, aku tidak pernah membayangkan, aku tidak kuasa melautkan kesedihan. Pria yang kubenci seumur hidup, rela mengorbankan segala yang dia punya. Aku yang mati-matian menghinanya, menghadriknya, merendahkannya, beliau balas dengan rasa bangga memilikiku, di depan ibu. Air mataku kering, bercucuran membanjiri lantai-lantai yang kelamaan juga mengering.

Tak ada satu katapun yang bisa kuucap, tiada satu aksara pun yang mampu menggambarkan. Setiap jengkal perlakuanku adalah dosa, setiap tindakan yang muncul dalam pikiranku adalah hina. Aku baru menyadarinya, pria yang kusebut angkuh itu, menyimpan sesuatu yang lebih daripada seluruh harta, sesuatu yang lebih berharga daripada jabatan, sesuatu yang lebih berharga daripada seisi dunia, yakni pengorbanan. Pengorbanan seorang Ayah.

Dengan ini aku akan lebih bekerja keras untuk membalas sebuah kepercayaan, bekerja keras demi suatu tujuan, bekerja keras untuk seorang yang tercinta. Aku menyatakan kalau aku bangga, aku ikhlas, aku menerima, aku bahagia, memiliki pria itu dihidupku. Aku yang durhaka ini, akan memberi sebuah aksara, yang kutahu tidak akan pernah menghapuskan dosa. Ayah...

Aku meminta maaf.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keluti Sastra, Dilupakan Nusantara