Postingan

Teruntuk: Pria itu

Seluruh rasa hormat yang bertumbuh kembang dalam diri ini sirna. Pria itu, yang seharusnya menjadi anutan kami telah gagal menunjukkan citra sebagai seorang kepala rumah tangga. Satu hal yang tersisa hanyalah keangkuhan. Karena jabatan, terkuras abis isak air mata ibu olehnya. Semenjak hari itu, benih kebencian berkembang biak di dalam benakku, membekukan hatiku sedikit demi sedikit sampai tersedimen penuh untuk seorang pecundang seperti dia. Tanganku seringkali mengepal, tak kuasa menunggu waktu yang tepat untuk melayangkannya ke wajah, dada, dan seluruh tubuhnya. Tetapi ketika hendak melakukannya, niatku selalu terurung. Aku tidak ingin menjadi dia, tak sudi mencerminkan dirinya dalam tindakanku. Aku lagi-lagi mengelak, lagi-lagi menahan gejolak untuk menyeruakkan kebencian. Tampias air mata ibu, akan terbalas suatu saat nanti dengan deras air matanya. Sampai pada suatu hari, aku menyakiti seorang wanita yang kucintai. Dia menangis begitu dalam bagai sedang memusarakan jiwan...

Balada Pemegang Tuas Angkutan Kota

Gambar
Foto: dokumentasi pribadi Mengendarai kendaraan roda empat di simpang jalan kota Depok ternyata bukan perkara mudah. Pada jam-jam tertentu, kepadatan bagai menyergap pengendara yang juga menyumbang gas emisi berlebih ke udara. Apalagi, angkutan umum, yang notabene merupakan kendaraan umum sehari-hari masyarakat belum dilengkapi dengan fasilitas pendingin ruangan. Tentu saja hal ini menambah kepenatan. Setidaknya begitu pengakuan Parno, supir angkutan kota senior yang telah membawa mesin bajanya selama 40 tahun, jika dihitung saat 2018. Keluh kesahnya tertuang di warung kopi daerah Mekarsari, Depok, Jawa Barat. Walaupun hari sedang terik-teriknya dan menenggak air dingin dirasa cukup logis untuk melepas dahaga, Parno lebih memilih menyeruput kopi hitam dengan rokok keretek di sela jemari tangan kanan. Ditemani oleh kawannya, Aki, bertukar cerita seputar pekerjaan mereka. Aki seorang supir angkot pula. Di hadapannya, sambil duduk sila, Parno mengatakan kalau d...

Kekosongan

Gambar
Foto: google Mari, rehatlah di atas kursi lipat pada hamparan senja tua yang sedikit lagi mengabu sebelum akhirnya menghitam pekat. Untuk melanjutkan perbincangan kita tempo hari, izinkan aku menikmati sepuntung tembakau dengan abu membara dan secangkir kopi arabika. Abaikan riuh suara jangkrik di sekeliling, jangan dijadikan sebagai alasan untuk kemudian berpaling. Cerita kali ini tentang temali kerinduan yang menguntai panjang sampai tak terlihat ujungnya. Memanglah semua telah digariskan sebelumnya, tapi biarkan aku mengkhianati itu dengan rangkuman kata-kata. Ketika kutambatkan seluruh harap pada bintang-bintang, mereka dengan sengaja menghilang sehingga aku tak terkendalikan layaknya binatang. Rindu ini mendobrak palang! Ini menjadi tragedi di antara samar-samar kehidupan. Setiap kuambil satu per satu langkah, aku menopang berat kerinduan tanpa sedikitpun mengenal rasa lelah. Walaupun terpapar panas mentari, dihujani ribuan rintik berkali-kali, ataupun disambar kilat unt...

Keluti Sastra, Dilupakan Nusantara

Gambar
Foto: google Sambil berbaring, hanya gerakkan mata yang mampu ia lakukan. Dengan alasan kesehatan dan proses penyembuhan, dokter mengambil langkah operasi pada jantungnya. Sejak saat itu, kawannya sehari-hari adalah tabung oksigen yang harus selalu diganti setiap dua hari. Santapannya pun khusus, yakni Proten; sebuah penyuplai gizi seharga 200 ribuan. Kepenulisan adalah bidang yang membuat namanya mencuat. Adalah Hamsad Rangkuti, seorang sastrawan kebanggaan Tanah Air kelahiran Medan, 7 Mei 1943. Ia telah mempersembahkan banyak karya untuk mengatasi dahaga para pecinta sastra. Salah satu yang paling terkenal adalah novel bertajuk “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku Dengan Bibirmu” dan kumpulan cerpen “Bibir dalam Pispot”. Beberapa penghargaan telah diraihnya, seperti Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (1981) lewat novel 'Ketika Lampu Berwarna Merah'. Selain itu, pengakuan dalam bentuk Southeast Asian Writers Award (2008) dan Khatu...

Bebintangan

Gambar
Foto: google Dunia adalah ruang hampa yang tiada berbatas, adalah seluas-luasnya tempat, namun tetap meninggalkan sesak sebab tiada mampu menghirup udara lepas. Mataku terbelalak memandang bebintangan di ujung pandangan, tapi aku tahu bahwa hanya satu di antara ratusan itu yang berbinar paling terang. Bagaimana  bisa banyak cinta menghujam diri secara bersamaan, sementara hanya satu yang menusuk dada? Cinta bagai bintang yang diwadahi sinar agar memiliki bentuk, lebih cantik, dan lebih mencolok. Setiap sisi terasa begitu sempurna, walau terdapat kecacatan, adalah sinar yang menutupinya. Tetapi bintang tetaplah bintang, hanya terlihat sehabis petang dan lenyap saat fajar mulai benderang.  Sinar sudah dikhianati berulangkali. Kami semacam dipertemukan oleh suara takdir yang dengungnya mampu meluluhkan hati terdalam, seolah membinasakan rasa getir paling temaram. Cerita kami seperti bebintangan, mempunyai andil untuk menerangi setiap sudut dunia, tetapi masing-masing ters...