Teruntuk: Pria itu
Seluruh rasa hormat yang bertumbuh kembang dalam diri ini sirna. Pria itu, yang seharusnya menjadi anutan kami telah gagal menunjukkan citra sebagai seorang kepala rumah tangga. Satu hal yang tersisa hanyalah keangkuhan. Karena jabatan, terkuras abis isak air mata ibu olehnya. Semenjak hari itu, benih kebencian berkembang biak di dalam benakku, membekukan hatiku sedikit demi sedikit sampai tersedimen penuh untuk seorang pecundang seperti dia. Tanganku seringkali mengepal, tak kuasa menunggu waktu yang tepat untuk melayangkannya ke wajah, dada, dan seluruh tubuhnya. Tetapi ketika hendak melakukannya, niatku selalu terurung. Aku tidak ingin menjadi dia, tak sudi mencerminkan dirinya dalam tindakanku. Aku lagi-lagi mengelak, lagi-lagi menahan gejolak untuk menyeruakkan kebencian. Tampias air mata ibu, akan terbalas suatu saat nanti dengan deras air matanya. Sampai pada suatu hari, aku menyakiti seorang wanita yang kucintai. Dia menangis begitu dalam bagai sedang memusarakan jiwan...